Demokrasi dan Spirit Agama
Demokrasi yang diidentifikasi sebagai proses kepemihakan kepada mayoritas dan pemberian keadilan terhadap minoritas yang diletakkan sebagai suatu sistem pemerintahan dan secara terus-menerus diupayakan implementasinya oleh segenap komponen bangsa ini, pada tahap awalnya dilandasi oleh sebuah realitas atas pluralitas bangsa Indonesia itu sendiri untuk secara bersama-sama mewujudkan tatanan masyarakat yang adil dan makmur. Itulah yang menjadi tujuan bangsa Indonesia setelah merdeka.
Pada tahap perkembangan selanjutnya dinamika masyarakat ternyata berjalan begitu cepat seiring dengan terbukanya wawasan dan pengetahuan anak negeri akan berbagai wacana pilihan sebagai hasil interaksi aktif dengan dunia luar. Akibatnya, tuntutan-tuntutan menjadi berkembang semakin banyak di dalam wadah bangsa negara itu sendiri. Sehingga mau tidak mau sistem yang diletakkan dan disepakati ini harus mampu menyerap, merespon, dan mewujudkan tuntutan-tuntutan tersebut secara kreatif bagi kedewasaan dan kemapanan sistem yang pilih tadi.
Baca selengkapanya…… »
1. Aspirasi duniwiyah, membelokkan kemurnian akherat
Ada hikayat tentang ketekunan ibadah seorang pemuda pada masa Bani Israel. Suatu saat ketekunan ini terusik oleh realitas prilaku suatu masyarakat yang menyembah-nyembah pohon besar. Ia tidak mungkin membiarkan hal ini, sebab menegakkan dakwah dan amar ma’ruf nahi mungkar termasuk kewajiban agama dan bagian dari ibadah. Usut punya usut dalam pikirannya, sang pemuda menemukan pangkal penyebabnya; yakni pohon besar itu. Semangat dan ghirah keagamaannya benar-benar telah menyatu dengan tekad untuk menebang pohon tersebut.
Baca selengkapanya…… »
Untuk meningkatkan kwalitas keilmuan santri dalam bidang jurnalistik, selama dua hari(Selasa, 29 April 2008 dan Rabu, 30 April 2008) PP. Langitan bekerja sama dengan Balai Bahasa Provinsi Jatim mengadakan kegiatan bengkel bahasa dengan tema “Pelatihan Penulisan Berita Media Massa bagi Santri”.
Acara ini dilaksanakn di gedung BPM (Biro Pengembangan Masyarkat) PP. Langitan. Adapun jumlah peserta 42 orang (putra-putri) dan mereka bukan hanya dari PP. Langitan saja, tapi juga dari pesantren Tuban dan sekitarnya. Antara lain ; PP. Al-Falah (Rengel, Tuban), PP. Attanwir (Sumberejo, Bojonegoro), PP. Bejagung (Jenu, Tuban), PP. Darul Ulum (Widang Tuban), PP. Darul Fiqhi (Lamongan), PP. Gilang (Lamongan), PP. Sunan Drajat (Lamongan).
Jadwal kegiatan bengkel bahasa untuk hari pertama*, penyampaian materi tentang teori pengenalan jurnaslistik dan Pelatihan penulisan. Sedang hari kedua dengan materi praktik penulisan berita media massa, ulasan hasil karya peserta dan test akhir oleh Mundar Fahman** (Group Jawapos, Radar Bojonegoro)
.:: Ralat dan Update 1-05-’08 ::.
- * Untuk pemateri hari pertama adalah Joko Pitono (Editor buku dan jurnalis asal Surabaya)
- ** Hari kedua rencana awal mendatangkan Muhdar, tapi beliau berhalangan hadir dan diganti Ahmad Taufiq Redaktur Radar Bojonegoro.
Jawaban dari beberapa pertanyaan yang masuk ke Forum Musyawarah PP. Langitan via web :
Menggulung Tangan.
Hukum meletakkan tangan kanan dibawah tangan kiri itu khilafussunnah (tidak mendapatkan kesunnahan). Diriwayatkan oleh Shohabat Wa’il bahwasanya: ia (Wa’il) melihat Nabi Muhammad Saw. setelah takbiratul ihrom meletakkan tangan Kanannya diatas tangan kirinya.(Muslim: 2/12)
Bersedeku Saat I’tidal
Meletakkan kedua tangan diatas dada itu hanya kuwarid (dicontohkan oleh Nabi) pada tiap selesai membaca takbir dalam sholat. Sedangkan setelah I’tidal bacaan masyru’ (yang disyari’atkan Nabi) adalah سمع الله لمن حمده , sehingga para ulama’ berkesimpulan bahwa meletakkan kedua tangan hanya dilakukan; (1) setelah takbiratul ihrom (saat berdiri membaca Do’a iftitah sampai surat), (2) setelah bangkit dari sujud (Qiyaam/berdiri ke-dua, ke-tiga dan ke-empat).(hasyiyah jamal; 3/479)
Baca selengkapanya…… »
Ditulis Oleh Muhsin Labib
Apakah ayat-ayat Al-Qur’an dapat diperlakukan sebagai premis-premis dan teks-teks semata yang harus tunduk pada standar validitas dalam logika? Apakah Al-Qur’an menganjurkan kita untuk ‘percaya bahwa’? Apakah Al-Qur’an memuat argumentasi tentang keberadaan Tuhan, Sang kausa Prima ataukah tidak?
Ada beberapa pendapat dan jawaban atas pertanyaan di atas. Pertama, bahwa dalam Al-Qur’an tidak terdapat ayat yang memuat argumentasi rasional akan keberadaan Tuhan karena
Baca selengkapanya…… »
Manusia diberi kepercayaan penuh untuk memilih antara menjadi orang kaya atau miskin. Agama Islam hanya akan memberikan peringatan-peringatan untuk menghindarkan manusia agar tidak terjerat dalam kesalahan yang bisa berdampak fatal bagi dirinya. Karena di dalam kekayaan dan kemiskinan memiliki banyak jebakan yang sangat luar biasa bahayanya apalagi ketika manusia berada dalam posisi kaya raya. Di antara jeratan yang bisa menyerat manusia terjerumus ke dalam lembah siksa yang pedih adalah terinfeksi penyakit bakhil.
Baca selengkapanya…… »
Oleh: KH. Ihya Ulumiddin
Saat ini, jika ada orang bicara politik, pasti selalu saja dikait-kaitkan dengan jabatan, kekuasaan, dan uang. Nampaknya, makna politik menurut kacamata masyarakat dewasa ini tidak bergeser dari ketiga hal tersebut. Pemahaman masyarakat menjadi seperti ini merupakan sebuah akibat dari perilaku para pelaku politik itu sendiri. Sepak terjang para pemain politik dari mulai masa kampanye sampai ketika sudah menduduki jabatan atau kekuasaan, yang setiap saat dapat selalu ditonton oleh masyarakat luas, sarat dengan aspek kekuasaan, jabatan dan uang. Sedikit sekali –untuk tidak mengatakan tidak ada— perilaku-perilaku mereka yang lebih menonjolkan aspek moral dan keadilan.
Baca selengkapanya…… »
Satu lagi langkah maju ditempuh koperasi PP. Langitan dengan membuka minimarket sme’sco mart yang berada di kecamatan kota Widang, Tuban atau sebelah utara balai desaWidang. Hal ini ditempuh untuk menyediakan kebutuhan sehari-hari masyarakat dan juga untuk memperpendek jarak guna memenuhi kebutuhan tersebut. Karena selama ini untuk berbelanja, masyarakat kec. Widang Tuban harus menempuh jarak sekitar 2 Km ke Kec. Babat, Lamongan hal ini karena di Widang sendiri belum ada mini market atau toko yang “komplit”.
Baca selengkapanya…… »
Oleh: Abdul Halim Fathoni*
Betapa indahnya menyaksikan hidup keseharian seorang kiai. Dengan kopiah dan sorban pritualitasnya, ia genggam tugas agama yang demikian agung. Dengan piyama putih religiusitas yang tanpa kerah, ia emban tugas-tugas sosial-kemasyarakatan. Dengan sarung kebersahajaannya, ia penuhi segala tuntutan ekonomi keluarganya. Itulah sekilas tentang aktifitas keseharian kiai pada masa dulu yang benar-benar merupakan figur yang mumpuni hampir di segala sektor kehidupan. Sehingga wajar, jika dirinya menjadi tokoh besar dalam sejarah.
Proses belajar mengajar yang di tempuh kiai masa dulu, untuk diterapkan pada jaman saat ini, sesungguhnya menjadi sesuatu yang kurang lazim. Baik dari segi materi pelajaran, ruang belajar, metodologi pengajaran, sistem edukasi maupun ritualitas-ritualitas pedagogi lainnya, hampir-hampir menjadi sesuatu yang tidak masuk akal bagi logika formalitas pendidikan saat ini.
Baca selengkapanya…… »




(3 votes, average: 4.67 out of 5)